
Buku Inspirasi B.J. Habibie
Saya mengajak siapa saja yang memiliki tulisan tentang (Alm) B.J. Habibie untuk dimasukkan di sini. Ke depan kita berharap bisa mempublikasikannya dalam bentuk buku. SIlakan bagi kawan-kawan yang telah mempublikasikan tulisannya di mesia sosial, dapat menyalinnya kembali di sini. Salam.

Karena Pak Habibie, waktu kecil dulu saya kalau ditanya apa cita citamu, pasti akan menjawab, “Pilot”. Kukira dulu yang bikin pesawat terbang itu kerjaannya Pilot. Ternyata bukan. Padahal maksud saya saat itu, ingin seperti Pak Habibie, bisa bikin pesawat terbang.
M. Galang Pratama
Editor Jariah publishing

Sosok inspiratif. Salah satu putra terbaik bangsa. Sangat kagum dengan keseharian beliau, mulai dari masa kecil yg sangat beda dari biasanya hingga dipenghujung usianya pun masih sempat berfikir yang terbaik untuk negerinya. Terdidik oleh orangtua yang juga taat agama, tunduk, takut kepada penciptanya. Berhasil menjelma menjadi manusia yang terkenal sepanjang masa. Hal penting yang kujadikan panutan dari beliau adalah tentang kesetiaan, ketaatan dan abdinya pada negara. Semua konsisten dan berkelanjutan sampai ajal menjemput. Kini tak ada lagi sosok beliau, mungkin ada tapi tak akan sama. Terima kasih atas ceritamu yang begitu indah. Semoga anak cucu kita lebih bisa menghargai perjuanganmu. Selamat berjumpa kembali dengan kekasihmu.
Alifah Nurkhairina
mahasiswa
"Makan ikan, Nak! Habibie waktu kecil suka makan ikan." – Ibu kepada saya, belasan tahun lalu
— Faisal Oddang (@faisaloddang_) September 11, 2019



By Arief Balla
Malam itu tiba-tiba saja saya menyeret diri ke mall, hendak menonton film “Habibie & Ainun 2”.
Tahun itu jika tidak salah tahun 2015, tahun saat sedang gagal-gagalnya dan jatuh-jatuhnya.
Ada banyak adegan mengharukan. Ketika Habibie menahan lapar, berjalan sendiri pulang dalam kedinginan yang sangat, dan ketika ia sepenuh-penuhnya salat menghadap Allah dalam kepasrahan. Dalam kekacauan pikir dan stres.
Mata saya berkaca-kaca sampai harus mengusapnya. Bukan saja karena haru melihat perjuangannya namun di saat bersamaan saya merasa mimpi keluar negeri terlalu tidak tahu diri. Saya tidak secerdas Habibie. Saya pulang jam satu malam dengan dua perasaan sekaligus: terinspirasi dan sekaligus putus asa.
“Tiga tahun kemudian saya akhirnya keluar negeri, sama seperti Habibie. Dalam banyak hal saya mengalami dan merasakan beberapa adegan di film itu.”
Memang saya tidak sampai harus kelaparan dan kekurangan uang, tapi stres dan merasa sendiri ketika berjalan di musim dingin penuh salju nan sendu juga beberapa kali saya rasakan. Dan puncaknya adalah ketika bersujud salat di sudut-sudut perpustakaan dengan air mata hangat menggetarkan bulu mata.


Dalam setiap senti jejak hidupnya, saya belajar darinya. Selamat jalan. Terima kasih atas inspirasinya. Semoga akan ada Habibie Yang lain, pun begitu dengan Ainun yang setia menemani dalam seluruh suka duka. Amin.

Secuil dari Perbincangan tentang Habibie
* FADLI ANDI NATSIF Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Di ruang studio mini harian Fajar (Sabtu, 10/3/2018) lagi dibincangkan sosok, mantan presiden ketiga Indonesia, BJ Habibie. Mr. Crack dari Parepare, demikian judul besar buku yang dibincangkan. Pemantik bincang A. Makmur Makka, penulis yang meraih penghargaan dari MURI. Pasalnya, tidak gampang seorang penulis buku kurang lebih 60, topiknya hanya seputar kehidupan Habibie. Sebagai peserta yang diundang berbincang merasa ada hal yang perlu diberi apresiasi. Terutama sikap seorang Habibie ketika diberi kepercayaan melanjutkan tampuk kekuasaan yang ditinggal oleh presiden Soeharto, 21 Mei 1998. Secara konstitusional memang seperti itu. Malah seharusnya Habibie bisa menjalankan roda pemerintahan sampai akhir periode yang ditinggalkan oleh Soeharto. Tetapi di sini Habibie sudah menampakkan kenegarawanannya, hanya ingin mengantar masa transisi menuju demokrasi. Secuil catatan ini memang hanya ingin menarasikan secara singkat sifat kenegarawanan yang dimiliki oleh pemilik nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie. Selanjutnya ada pada tautan (klik judul tulisan)

Bj. Habibie. Sejak kecil beliau adalah tokoh yang menjadi idola saya. Bukan karena beliau adalah mantan presiden melainkan karena kepandaiannya dalam merancang dan membuat pesawat terbang, itulah alasan awal saya mengagumi “eyang” salah satu sapaan akrab beliau.
Seiring dengan berjalannya waktu saya sedikit banyaknya mulai mencari tau lebih dalam lagi. Lewat buku, film atau juga dengan membuka biografinya di internet. Memang, tak salah jika beliau menjadi panutan sebab ada banyak sekali proses hidup yang dapat di petik darinya baik itu dalam dunia pendidikan, pemerintahan bahkan sampai ke perjalanan cintanya bersama sang istri Ainun pun adalah pembelajaran.
Pernyataan yang sampai sekarang melekat pun adalah dirinya sudah tak takut lagi untuk mati sebab dia yakin saat ke dimensi itu yang pertama akan menemuinya adalah Ainun.

Satu tanggapan untuk “Menulis tentang B.J. Habibie”
Keren jg yaa…